Apakah anak manusia dari 2 ras yang berbeda memang sulit untuk dipersatukan? Itulah pertanyaan yang coba disampaikan oleh Sindhunata melalui lakon-lakonnya Gurdo Paksi dan Giok Tien dalam novelnya yang berjudul Putri China. Tadi malam (24/5) lakon tersebut berusaha disampaikan melalui ketoprak Putri China dalam rangka memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional.

Kegiatan ini digelar di halaman Klenteng Tay Kak Sie yang sudah berusia kurang lebih 250 tahun lebih. Masyarakat Semarang terlihat sangat antusias terlihat dengan penuhnya kursi-kursi yang disediakan oleh panitia dan banyaknya masyarakat yang berdiri untuk menyaksikannya.
Pembukaan acara dimulai dengan pagelaran puisi dan lagu yang bertemakan kebangkitan nasional. Selanjutnya diisi oleh tarian yang melambangkan Dewi Kwam Im. Saya sangat terpesona oleh kareografi tarian ini yang sangat indah dibawakan oleh penari-penari itu. Tarian Dewi Kwam Im itu merupakan pembuka yang sangat sempurna sebelum memasuki sajian utama berupa ketoprak Putri China.

Ketoprak Putri China menceritakan tentang kisah percintaan dua orang manusia yang mempunyai ras berbeda yaitu Cina dan Jawa. Melalui Putri China, Sindhunata berusaha menggambarkan kejadian tragis Kerusuhan Mei 98 dan kritiknya terhadap masyarakat kita yang masih sangat kental memisahkan antara dua budaya Cina dan Pribumi. Tadi malam pesan-pesan dalam cerita Putri China sangat baik sekali dibawakan oleh para pemain ketoprak yang bermain di dalamnya. Kadang cerita disampaikan dalam bentuk humor khas Semarangan dan juga disampaikan dalam bentuk-bentuk visual yang menggugah terutama sewaktu penggambaran penindasan etnis Cina oleh kaum pribumi atau oknum di dalam lakonnya.
Acara sendiri berakhir sekitar jam setengah 12 malam dan mudah-mudahan kegiatan ketoprak Putri China ini dapat menggugah masyarakat Semarang khususnya dalam mengenang Hari Kebangkitan Nasional.
Selain itu, kuatnya pesona budaya acara ini, yang layak mendapat apresiasi tidak hanya nasional tapi juga internasional, tentu akan sangat bagus bagi perkembangan wisata Kota Semarang jika acara tersebut menjadi agenda budaya tahunan.
Semua skrinsut diambil oleh Yudi

Acaranya sangat bagus… tapi saya punya kritik untuk acara ini. kebangkitan nasional itu dipelopori seoarang pemuda usia 20 tahun. Eh kenapa yang mengisi panggung dari MC, pembaca puisi, maupun pemain ketropak diisi oleh orang2 yang ga muda lagi. Ke depan libatkan anak2 muda!
apik… gethun ora melu nonton…
yaks saya nonton lho..
*ga ada yang nanya*
Awesome…
Benar2 hiburan rakyat jelata.
Semua berbaur dan sayapun “lungguh nglemprak”.
Sudah lama tidak merasakan hiburan seperti ini.
Menangis dalam tawa.
Datang agak telat. Tapi masih sempat nonton ketoprak sejak awal. Sayangnya saya tidak memperoleh tempat duduk
Selebihnya sangat memuaskan.
aku jg g nonton, nyesel. aku bc di koran td pg, koran senin tapi. humornya kritikan bgt ya kayaknya.
Aku bawa tustel milik adikku, untuk jepret-jepret, eh, hasilnya buruk amat. maklum, yang make gaptek. wakakakaka … terpaksa untuk posting di blog, aku nyomot gambar dari yang ada di internet aja dah. hahahahaha …
Kami sebagai panitia merasa puas bahwa peringatan 100 tahun kebangkitan nasional di halaman kelenteng tay kak sie dengan menampilkan seniman semarang membacakan puisi kebangsaan dan ketprak putri cina mendapat sambutan antusias dari masyarkat semarang dari segala lapisan dan golongan
terima kasih atas dukungannya
harjanto halim